Pengguguran

Ikhtisar

Pasal-Pasal tentang abortus terdapat pada BAB XIX KUHP (kejahatan Terhadap Nyawa Orang), sehingga abortus hanya dapat dilakukan terhadap buah kandungan yang masih hidup. Jadi Penuntut Umum haus dapat membuktikan bahwa sebelum adanya tindakan dari terdakwa buah kandungan itu masih hidup. hal ini tidak mudah dilakukan.

Pasal 15 ayat (1) Undang undang Kesehatan 1992 (sekarang ada yang terbaru 35 tahun 2009) adalah absurd. Pengecualian tidak dimasukkan sebagai bagian dari suatu pasal atau merupakan pasal sendiri, tetapi cukup diinterpretasikan dan dicarikan dasar penghapus hukumannya (strafuitsluitingsgrond)

Pengertian

abortus spontaneus atau keguguran adalah hasil pembuahan (conceptio) yang dilahirkan sebelum waktunya. pengguguran semacam ini terjadi karena faktor alami.

pengguguran atau abortus yang sengaja dilakukan atau bukan karna sebab yang alami dinamakan abortus provocatus. aborsi ini sendiri dibagi ke dua jenis yaitu:

1. dengan alasan medis untuk menyelamatkan jiwa ibu dan atau janinya (Pasal 15 ayat (1) UU no 23 th 1992 tentang Kesehatan). biasa disebut Abortus Provocatus therapeuticus atau Abortus Provocatus Medicinalis

2. dengan alasan lain, yang tidak sah dan tidak sesuai peraturan yang berlaku biasa disebut abortus Provocatus Criminalis.

Perundang-undangan Tentang Abortus

yang diatur dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)

  1. Pasal 346 seorang wanita yang menggugurkan atau menyuruh orang lain menggugurkan kandunganya diancam pidana penjara 4 tahun
  2. Pasal 347 seseorang yang menggugurkan kandungan seorang wanita tanpa persetujuan wanita tersebut diancam penjara 12 tahun, apabila mengakibatkan wanita itu mati maka ancamannya menjadi 15 tahun penjara
  3. Pasal 348 seseorang yang menggugurkan kandungan seorang wanita dengan persetujuan wanita tersebut diancam penjara 5 tahun 6 bulan, apabila mengakibatkan wanita itu mati maka ancamannya menjadi 7 tahun penjara
  4. Pasal 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu
    dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.
    Pasal 350

dalam undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pengaturan abortus terdapat di Pasal 15 dengan ketentuan pidananya pada Pasal 80 ayat (1)

Pasal 15

ayat (1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyclamatkan jiwa ibu
hamil dan atau janinnya, dapat ditakukan tindakan medis tertentu.
ayat (2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya
dapat dilakukan :
a. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya
tindakan tersebut;
b. oleh tenaga keschatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung
jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami
atau keluarganya;
d. pada sarana kesehatan tertentu.

ayat (3)
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah.

Pasal 80 ayat (1)

Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu
terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda
paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

undang-undang Kesehatan tersebut telah dirubah dengan uu no 36 tahun 2009

Pasal 75

ayat (1)  Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
ayat (2)  Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dikecualikan berdasarkan:

a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau

b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

ayat (3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.

ayat (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
dengan ktentuan pidana pada Pasal 194
setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Kapan sebuah janin dianggap hidup? ada beberapa pendapat diantaranya:

  1. Sejak saat kontak antara Ovum dan Spermatozoon
  2. Sejak Spermatozoon masuk ke dalam Ovum dan Kromatosoma menjadi satu
  3. Sejak terjadinya pembelahan sel yang pertama
  4. Sejak Ovum yang telah dibuahi bersarang pada dinding uterus (nidasi)
  5. Menurut Hippocrates nyawa itu ada pada janin lelaki 30 hari dan pada perempuan 42 hari sesudah conceptio.
  6. Menurut Aristoteles nyawa itu ada pada lelaki 40 hari dan pada perempuan 80 hari sesudak conceptio.
  7. Menurut Hukum Gereja (Cannon Law) yang sepanjang masa telah berubah ubah: 40 Hari, 60 Hari dan 90 Hari sesudah conceptio
  8. sejak otak buah kandungan itu sudah mulai berfungsi dan ditaksir terjadi 5-16 minggu sesudah conceptio
  9. Menurut salah satu mazhab dalam agama Islam (Mazhab Syafi’i) nyawa itu baru ada 120 hari sesudah conceptio
  10. sejak jantung buah kandungan mulai berdenyut, yaitu 16-20 minggu sesudah conceptio
  11. sejak dirasakan buah kandungan dalam perut ibu yaitu 20 minggu sesudah conceptio
  12. sejak saat dilahirkan, yaitu anak itu benar benar hidup mandiri dan tidak tergantung ibunya (filsafat stoicijn)

artikel diambil dari diktat “Ilmu Kedokteran Forensik” pengarang dr. Handoko Tjondroputranto, Sp.F

About hegarsandroria

sederhana
This entry was posted in Hukum Kedokteran Forensik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s